Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Teks
Submitted by admin on January 9, 2014 – 6:33 pm10 Comments | 6,681
Kemampuan berbahasa menghela kecakapan siswa dalam mengiteraksikan hasil pemikiran baik secara tertulis maupun vebal pada interkasi sosial dalam menudukung pengungkapan pikiran dalam bidang pendidikan, ekonomi, politik, hukum, maupun industri. Peran memediakan pikiran secara tertulis kini makin penting dalam kehidupan sejalan dengan pertumbuhan pengetahuan dan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin cepat.
Istilah Berbasis Teks
Istilah teks, juga sering disebut genre adalah satuan bahasa yang dimediakan secara tertulis atau lisan dengan tata organisasi tertentu untuk mengungkapkan makna dalam konteks tertentu pula. Riyadi menyatakan bahwa teks adalah bahasa yang sedang digunakan dalam konteks tertentu. Pandangan tersebut menyatakan bahwa teks dapat muncul dalam bentuk lisan maupun tulisan yang tidak terlepas dari sistem bahasa pada konteksnya.
Istilah teks sering disepadankan dengan istilah genre karena kegiatan berbahasa merupakan proses sosial yang berproses secara bertahap untuk mencapai tujuan tertentu sebagaimana dinyatakan Wiratno yang merujuk pada Martin&Rose (2003).
Genre berkaitan dengan latar belakang budaya dan sosial yang mendasari tercipta suatu teks. Karena itu, mengenali teks secara mendalam tak akan lepas dari nilai-nilai budaya yang melatarinya dan tujuan sosial mendasarinya. Analisis lebih jauh melalui teks tertentu dapat dikenali pula nilai-nilai spiritual atau moral yang melandasi tumbuhnya tujuan sosial maupun nilai-nilai budaya. Analisis seperti ini dapat membawa pemahaman tentang dimensi genre secara luas di samping pengenalan secara sempit tentang jenis teks yang menjadi bahan kajian.
Teks atau genre bisa sebagai wacana (discourse). Istilah wacana menurut kamus besar merupakan (1) komunikasi verbal; percakapan; (2) lingkungan keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan; (3) lingkungan satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh, seperti novel, buku, artikel, pidato atau khutbah; (4) lingkungan atau prosedur berpikir secara sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; (5) pertukaran ide secara verbal.
Membedakan teks, genre, dan wacana adalah produk dari sudut pandang yang berbeda terhadap realitas bahasa dalam konteksnya. Bahasa dapat muncul dalam bentuk strutur, sebagai media interaksi sosial untuk mencapai tujuan tertentu, atau sebagai keseluruhan tutur yang dilandasi dengan cara berpikir sistematis dan logis.
Teks dilihat dari dimensi fisik jelas dapat keberadaannya, dapat dianalisis strukturnya, dan dapat dikenali unsur-unsurnya. Dilihat dari dimensi abstrak, teks merupakan satuan makna bahasa melekat dalam penggunaanya dalam konteks tertentu. Dilihat dari dimensi proses sosial maka teks bermanka sejajar dengan genre. Jika dilihat dari proses komunikasi dalam penuturan atau pemediaan pikiran secara utuh, maka teks merupakan bermakna sama dengan wacana.
Hasil analisis dari berbagai dimensi tersebut, maka teks memiliki ciri berikut:
- Memiliki tata organisasi yang kohesif
- Mengungkapkan makna.
- Terstruktur pada konteks
- Dapat dimediakan dalam bentuk tulis maupun lisan (Wiratno).
Langkah Pengembangan Teks
Langkah pengembangan teks dalam pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan empat langkah berikut:
- Membangun Konteks (MK)
- Membentuk model teks (Pemodelan)
- Membangun teks bersama-sama (MtB)
- Membangun teks secara mandiri (MTM)
Integrasi khas dalam pembelajaran bahasa Indonesia akan menghasilkan model berikut:
- Membangun konteks melalui kegiatan mengamati teks dalam konteksnya dan menanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan teks yang diamatinya. Pada langkah membangun konteks siswa dapat didorong untuk memahami nilai spiritual, nilai budaya, tujuan yang melatari bangun teks. Pada proses ini siswa mengeksplorasi kandungan teks serta nilai-nilai yang tersirat di dalamnya. Di sini siswa dapat mengungkap laporan hasil pengamatan untuk bahan tindak lanjut dalam kegiatan belajar.
- Membentuk model melalui kegiatan mencoba dan menalar merumuskan model strukur fonologi, gramatikal, leksikal, dan makna teks dibacanya. Pada langkah ini siswa didorong untuk meningkatkan rasa ingin tahu dengan memperhatikan (1) simbol, (2) bunyi (3) tata bahasa dan (4) makna. Melalui analisis fakta dan data pada teks yang dipelajarinya siswa memperoleh model imbuhan, struktur imkata, frase, klausa, kalimat, maupun paragraf. Semua hal tersebut siswa pelajari pada konteks pemakaiannya. Pada tahapan ini siswa dapat mengeksplorasi jenis teks yang dipelajarinya serta mengenali ciri-cirinya. Proses aktivitas pengenalan bukan sebagai tujuan akhir pembelajaran, melainkan sebagai awal kegiatan untuk mengembangkandaya cipta.
- Membangun teks bersama-sama menyusun teks bersama masih dalam kegiatan mencoba, menalar, dan mencipta secara kolaboratif yang dilanjutkan dengan menyaji. Siswa menggunakan hasil mengeksplorasi model-model teks untuk membangun teks dengan cara berkolaborasi dalam kelompok. Melalui kegiatan ini diharapkan semua siswa dapat memperoleh pengalaman mencipta teks sebagai dasar untuk mengembangkan kompetensi individu.
- Mengembangkan teks secara mandiri dengan titik tekan pada siswa dapat menunjukkan kompetensinya secara individual dalam mencipta. Karena itu, dimensi kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia wajib memenuhi empat langkah dasar, enam langkah mengembangkan keterampilan beraktivitas secara saintifik, dua model kegiatan koloboratif dan individual, dan berdimesi beraktivitas dan berkarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar